Home » » Pengalaman Backpacker Ke Gunung Bromo (Part 5 - End)

Pengalaman Backpacker Ke Gunung Bromo (Part 5 - End)

Written By Rudi Ardiansyah on Sunday, May 27, 2012 | 5:30 PM

Baca part 4-nya disini.

Kami pun disambut oleh ibu (lupa namanya) pemilik rumah makan Nasi Padang yang ruangannya tidak terlalu besar itu, langsung kami memesan makanan khas Nasi Padang, ada yang pesan paru, rendang, dan ayam pop. Mungkin karena kami berenam membawa tas yang lumayan besar, si Ibu pun bertanya kepada kami: “habis dari mana?” Kami pun tidak sungkan untuk menjelaskan bahwa kami habis dari Gunung Bromo. Karena sepertinya si ibu senang ngobrol, akhirnya kami pun curhat atas apa yang telah dialami selama perjalanan ke Gunung Bromo dari mulai sengsaranya naik kereta api ekonomi dari Bandung – Surabaya, ditipu guide di Gunung Bromo, harga makanan yang mahal, dan terakhir mengenai keterlambatan kami ke Stasiun Kereta Api gara-gara supir angkot.

Setelah selesai menceritakan keluh kesah kami, kami pun tanya balik tentang si ibu tersebut. Selidik demi selidik, ternyata si ibu pernah tinggal di Kota Cimahi yakni tetangganya Kota Bandung. Suami si ibu ternyata punya angkutan kota disana yakni jurusan Cimahi – Padalarang yang berwarna oranye. Si ibu pun pernah beberapa tahun tinggal di Cimahi, kebetulan saya tahu angkot tersebut karena sewaktu SMA saya sekolah di Cimahi sehingga pembicaraan semakin enak saja.

Karena mungkin ada hubungan kedaerahan (sama-sama pernah tinggal di Cimahi) atau karena si ibu memang baik hatinya, mendengar kami yang akan menginap di emperan stasiun kereta api, si ibu langsung bilang bahwa kita tidak boleh menginap disana dikarenakan banyak preman kalau malam-malam. Selain itu, dulu pernah ada yang dirampok juga kalau malam-malam menginap disana (bisa benar-benar tidak jadi pulang kalau kami dirampok). Si ibu pun dengan tulusnya menawarkan kami untuk menginap di Rumah Makan Nasi Padangnya yang sederhana itu (di dunia ini memang masih banyak orang baik). Kami pun tidak menolaknya, kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pertolongan yang diberikan-Nya melalui si ibu tersebut. Lega rasanya hati kami waktu itu.

Si ibu yang ditemani anaknya yang paling kecil nomor dua yang juga saya lupa namanya (kalau tidak salah anaknya sudah SMP waktu itu) memberi tahu bahwa Stasiun Pasar Turi besok bukanya pagi-pagi pukul 06.30 dan memberi saran bahwa kami harus langsung antri karena biasanya banyak yang akan pergi menggunakan kereta api ekonomi. 

Karena perasaan kami sudah tenang, akhirnya kami pun memutuskan untuk berjalan menikmati Kota Surabaya dimalam hari. Sekitar pukul 20.00, kami berjalan diantar oleh anak si ibu tersebut sebagai guide kami. Berbeda dengan Bandung dan Jakarta, Surabaya menurut saya tata letak kotanya sangat rapi dan juga bersih, tidak heran kalau kota terbesar kedua di Indonesia itu sering mendapatkan berbagai macam pengghargaan. Melihat tugu/monumen khas Surabaya yakni ukiran patung hiu dan surabaya, kami pun langsung berfoto didepannya. Selain itu, kami datang ke taman kota yang benar-benar sungguh rapi dan memiliki berbagai macam arena permainan seperti tempat untuk bermain skateboard.

Suasana Taman Kota di SurabayaMengingat kebaikan yang diberikan si ibu kepada kami, dengan keterbatasan uang kami, kami membeli martabak untuk si ibu dan anaknya waktu itu sebagai rasa terima kasih kami. Sayang, karena waktu itu badan saya agak kurang enak, saya dan satu orang teman saya serta si anak ibu akhirnya pulang ke rumah makan sekitar pukul 22.00, sedangkan yang lainnya katanya pulang sekitar pukul 24.00 waktu itu.
Ketika pulang ke rumah makan, si ibu sudah tidak ada alias pulang ke rumahnya. Si ibu digantikan oleh anaknya yang paling besar untuk menunggui rumah makan karena ternyata Rumah Makan Padangnya buka 24 jam. Saya dan kedua teman saya (yang satunya menyusul sekitar pukul 24) tidur di atas bangunan yang memiliki saung sederhana berukuran kira-kira 2x2m, sedangkan yang lainnya tidur di atas meja makan dengan posisi duduk, kepala, dan tangan menunduk di atas meja (kasihan sekali ya, haha). Namun, kami tidak bisa tidur dengan pulas waktu itu dikarenakan banyaknya nyamuk yang menemani kami waktu itu.
Akhirnya kami bangun sekitar pukul 05.00 untuk bersiap-siap pulang. Si ibu belum ada, namun sebelum pulang kami makan lagi untuk sarapan, oh iya harga makanannya murah, benar-benar harga standard. Setelah selesai, kami pun pamitan dengan anaknya si ibu, sayang si ibu belum ada waktu itu, kami benar-benar berterima kasih kepada si ibu pemilik Rumah Makan Nasi Padang tersebut, kami pun mendoakan beliau agar selalu diberkahi oleh Yang Maha Kuasa.
Setelah itu, kami pun mengantri untuk membeli tiket kereta api ekonomi jurusan Bandung seharga Rp 40.000/orang di Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Sekitar pukul 07.00 kereta pun akhirnya tiba, kami pun bersiap-siap naik. Karena kereta ekonomi rawan dengan copet, sebelum masuk saya menggendong tas saya di depan badan (bukan di punggung) dan dompet dimasukan di saku celana depan. Ketika masuk pun, saya memegang saku depan saya yang berisikan handphone dan dompet. Penumpang yang masuk dan keluar tidak beraturan alias bentrok saling bertabrakan, tidak ada yang mau menunggu penumpang yang turun dulu karena mungkin takut tidak kebagian tempat duduk (berbeda dengan tipe bisnis dan eksekutif yang pasti kebagian tempat duduk, kereta ekonomi walaupun sudah dapat tiket, bisa saja tidak kebagian tempat duduk). Kami pun mengikuti mereka langsung masuk, dan benar saja kereta ekonomi rawan copet. Ketika saya masuk dan bentrok atau bertabrakan dengan para penumpang yang mau keluar, saya merasakan ada yang meraba-raba saku celana belakang saya, untung waktu itu saya taruh di saku depan dompetnya.
Namun teman saya Andre waktu itu tidak melakukan hal yang sama dengan saya, dan dompet dia pun raib oleh copet. Kami pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak tahu siapa orangnya. Untungnya uang kami waktu itu masih cukup untuk biaya makan di kereta termasuk untuk Andre. Akhirnya kami pun pulang dan menikmati lagi perjalanan menggunakan kereta api ekonomi seperti halnya keberangkatan yang memerlukan waktu kurang lebih 20 jam. Kami tiba di Bandung tepatnya di Stasiun Kiaracondong subuh, Alhamdulillah kami dapat pulang dengan selamat walaupun satu dari teman kami mengalami musibah kecopetan.
Perjalanan kami waktu itu menghabiskan waktu selama 3 hari 3 malam padahal seharusnya bisa 3 hari 2 malam apabila tidak terlambat ke stasiun kereta waktu itu. Oh iya uang yang saya bawa waktu itu Rp 300.000. Menjadi backpacker itu menurut saya sangat menyenangkan, walaupun banyak kejadian yang tidak diharapkan atau diluar rencana, namun justru hal tersebut menjadi seni dari indahnya menjadi backpacker. Saya pun bercita-cita ingin melakukan hal tersebut lagi ke seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri jika sudah ada rejekinya, Amin.....
Selesai.

2 comments:

  1. Yah ampun kak seru banget ,, aku baruu mau berangkat nih tanggal 22 abis lebaran ini .. Lebih sering baca blog ke sana :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. sy jg udh kangen pengen backpackeran lg.
      nanti abis dari sana ditulis ya pengalamanny..

      Delete

Search

Loading...
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus